Selamat Datang | Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma | Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat

Monday, July 23, 2012

Surabaya dan Salah Kaprah Asal Muasalnya

Jika kengkawan mendengar kata Surabaya, selain kota Pahlawan dengan 10 Novembernya, secara spontan yang terlintas adalah patung ikan Hiu dan Buaya yang saling serang yang kini menjadi lambang kota Surabaya, pun lambang Persebaya…^^, namun hasil penelusuran tim Sawoong menunjukkan hal lain, yaitu bahwa Surabaya sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan Sura (ikan Hiu) dan Buaya tersebut.
Mitos yang berkembang, nama Surabaya berasal pertarungan Ikan Hiu dan Buaya, sehingga Surabaya diambil dari kata Sura yang berarti ikan Hiu dan Baya yang berarti Buaya, oleh Karena itu, lambang kota Surabaya adalah Sura (Ikan Hiu) dan Buaya. Secara terminology bahasa, mitos ini dapat dipatahkan, karena istilah Sura sama sekali tidak mencerminkan kata Ikan Hiu, baik dari bahasa Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol, Sansakerta, maupun Jawa Kuno. Kecuali Shark dalam bahasa Inggris yang lidahnya mungkin kepleset jadi Sura, tapi jauh banget candaan plesetannya. Lain ceritanya jika Baya diambil dari Buaya atau Boyo, sehingga masih masuklah ini. Lalu Sura ini apa? Jika bukan ikan Hiu, lalu kenapa lambang Surabaya adalah Ikan Hiu dan Buaya.
Maka pertanyaan ini memunculkan rentetan pertanyaan berikutnya, sejak kapan Surabaya menggunakan logo Ikan Hiu dan Buaya sebagai lambang resmi identitas kota?
Lambang yang resmi tertempel di kop surat pemkot Surabaya ini ditetapkan oleh DPRS Kota Besar Surabaya dengan Putusan no 34/DPRDS tanggal 19 Juni 1955, ini diamini Presiden Sukarno dalam Keputusan Presiden RI No 193 tahun 1956 pada 14 Desember 1956. Sebelum tahun 1955, Gemeeente van Soerabaia alias pemkot Surabaya di masa Hindia Belanda juga mengambil dua binatang ini sebagai lambang.  Bedanya, lambang yang sekarang terkesan lebih heroik karena dua binatang itu saling serang, sementara lambang zaman Gemeeente kedua hewan ini pada posisi tidur sejajar di sebuah perisai warna biru langit. Ikan hiu di sisi atas menoleh ke kiri, dan buaya di bawah menghadap ke kanan. Keduanya berwarna perak. 
Di atas perisai terdapat gambar benteng yang mahkota warna emas. Sisi kiri-kanan perisai dipegangi dua singa Nederlandia (Nederlandse Leeuwen) berwarna emas dengan lidah dan kuku berwarna merah menjulur. Di bagian bawah ada pita bertuliskan "Soera-Ing-Baia".
Singa kembar mengapit prisai dengan pita di bagian bawah dan benteng di bagian atas adalah ciri lambang kolonial era 1900-an. Lambang ini berlaku di semua kota di Hindia Belanda, gementee van Soerabaia atau Pemkot Surabaya yang lahir pada 1 April 1906 juga ingin lambang kota. 
Lambang sebuah ikan dan buaya itu sebenarnya usulan LCR Breemen, bos Bank Nutsspaark di Surabaya. Sia berdalih lambang dua hewan itu pantas karena dasar mitos. Namun Breemen hanya mengusulkan karena yang merancang desain grafisnya adalah Genealogisch Heralsch Leeuw atau perhimpunan ahli lambang di Belanda. Baru pada 1920, lambang dua hewan dalam perisai itu menjadi kop surat dan stempel resmi Gemeeente van Soerabaia.
Secara sederhana, dari ulasan singkat tersebut diketahui istilah Surabaya dimungkinkan berasal dari kata Soera ing Baia sebagaimana tertera pada lambang Gementee van Soerabaia. Namun, istilah Soera ing Baia sama sekali tidak menunjukkan hubungan antara Ikan Hiu dan Buaya. Soera Ing Baia membawa arti Berani menghadapi Bahaya, dari bahasa Sansakerta. Sebagaimana kita tahu, beberapa istilah dan symbol yang ada di Negara kita berasal dari bahasa Sansakerta, maka asal usul nama ini dapat dipertanggungjawabkan.
Pertanyaan berikutnya, dari manakah Gementee van Soerabaia memperoleh ide Ikan Hiu dan Buaya sebagai symbol kota?
Sejumlah literatur sejarah mengungkapkan logo tertua model ikan dan buaya itu ditemukan arkeolog Belanda tahun 1920 dari penning atau prasasti tua yang dibuat untuk memperingati 10 tahun usia Perkumpulan Musik St Caecilia (1848 - 1858). Logo ini juga diyakini dibuat dari kain bludru yang dibordir di bendera yang menjadi panji panji perkumpulan musik ini. Logo itulah yang dipajang di setiap pementasan di bagian pinggir panggung para pemain musik. Mungkin karena bentuk logonya unik, Di tahun 1848, sebuah koran dagang Hindia Belanda tertua yang terbit di Surabaya, Soerabaiasche Courant, meletakkan lambang ini di kop koran sebagai logonya. Namun saat itu tidak jelas apa filosofi di dalam logo ini karena tidak pernah ada catatan. 
Kesimpulan sementara dari uraian Sawoong.com adalah, bahwa logo Ikan HIu dan Buaya yang dipakai Surabaya sebagai lambang identitas kota terinspirasi dari Perkumpulan Musik St Caecilia yang tenar pada tahun 1848 an, lalu dengan sedikit modifikasi dipakai sebagai lambang pemerintah Hindia Belanda di Surabaya tahun 1920 an dan kemudian diresmikan oleh Pemerintah Kota Surabaya tahun 1955 sampai sekarang dengan membuat ikon Sura dan Buaya nya saling serang dengan membentuk huruf “S”.
Soal logo Ikan Hiu dan Buaya sudah beres, tinggal nama Surabaya nya sendiri. Jika tidak mengacu pada Ikan Hiu (Sura) dan Buaya, lalu apakah arti Surabaya itu sendiri?
Hasil penelusuran Sawoong.com memperoleh 6 hipotesa asal usul nama Surabaya.
1.       Yang paling sederhana adalah mitos masyarakat, terkait pertempuran Ikan Sura dan Buaya yang terjadi disekitar Jembatan Merah, akibatnya Sura dan Buaya tersebut mati dan darahnya melumuri Jembatan sehingga berwarna merah, lalu bangkainya dimakan semut sehingga disekitar Jembatan Merah tersebut terdapat kampong semut, dan akhirnya ada Stasiun Semut @.@ (sebuah hipotesa yang paling lemah karena tidak terdapat bukti sama sekali dan hanya berdasarkan cerita fable rakyat setempat paling popular terkait asal usul Surabaya);
2.       Masih terkait mitos, kali ini terkait dengan Adipati Jayengrono (penguasa Surabaya) dan Sawunggaling (tokoh rakyat yang kerap dipentaskan dalam cerita Ludruk). Konon setelah mengalahkan prajurit Tartar tahun 1293, Raden Wijaya selaku raja pertama Majapahit mendirikan sebuah kadipaten di daerah Ujung Galuh (Surabaya) dan mengangkat Raden Jayengrono sebagai Adipati. Karena kekuasaan Adipati Jayengrono semakin meluas dan khawatir akan merongrong kewibawaan Majapahit, akhirnya Majapahit mengutus Sawunggaling untuk menaklukan Jayengrono. Jayengrono yang menguasai ilmu Buaya dan Sawunggaling yang menguasai Ilmu Sura (Ikan Hiu) bertarung habis-habisan dan keduanya mati kelelahan (maksa deh…sedikit gubahan dari cerita pertama sepertinya @.@);
3.       Surabaya menurut ahli arkeologi memang sudah muncul pada masa Majapahit. Dalam prasasti Trowulan tahun 1358 (yang sekarang tersimpan di Trowulan) tertulis nama daerah di tepian sungai Brantas yang disebut dengan Churabhaya;
4.       Dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca, nama Surabhaya tercatat sebagai sebuah daerah di muara sungai Brantas, tempat dimana sang raja pada tahun 1365 melepas lelah dalam melakukan perjalanan;
5.       Menurut GH Von Faber, dimungkinkan Surabaya sudah terlebih dahulu ada sebelum prasasti Trowulan maupun dalam Negara Kertagama. Dalam Karya bertajuk En Werd Een Stad Geboren, Von Faber membuat hipotesis, Surabaya didirikan oleh Raja Kertanegara tahun 1275 sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan;
6.       Surabaya pertama kali dikenal sebagai sebuah pedukuhan di barat Tegal Bobot Sari (sekarang Tegal Sari), muncul di Jaman Pangeran Kudo Kardono yang berkuasa tahun 1400 an, nama pedukuhan itu sekarang menjadi Kampung Surabayan.
Manakah yang benar?
Pemerintah Surabaya sepertinya memiliki cerita sendiri. Hal ini terkait juga dengan tanggal lahir atau hari jadi Kota Surabaya yang akan saya tulis dalam tulisan selanjutnya…
Jadi kesimpulannya, Surabaya berasal dari kata?...
Sumber data dan gambar dapat dilihat di sawoong.com

1 komentar:

Pakne DANU said...

laik dis..

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes